2. Daftarkan diri anda sebagai guru
3. Buat materinya
4. Buat grup untuk siswa
Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar. (Khalifah ‘Umar)
JURNAL BELAJAR
RABU, 20 OKTOBER 2010
Nama : Rusdin, S.Pd
NIP : 198012012006041013
Materi awal pelatihan bagi guru pemandu KKG dan MGMP di kota Ambon di hari yang kedua ini adalah di isi dengan contoh case studi yang disampaikan oleh Pak keliola selanjutnya dilanjutkan oleh Dra. Hj. As Banawi berisi masukan-masukan berkaitan dengan saran dan masukan terhadap pelaksanaan case study tersebut diantaranya menyangkut Bagaimana menyelesaikan masalah-masalah yang sering terjadi di kelas. Diakhir diskusi dapat diitarik kesimpulan bahwa karakteristik anak yang kompleks sehingga perlu penangana dengan cara kompleks pula, selanjutnya pemaparan materi case study diantaranya Case study atau studi kasus adalah rangkuman pengalaman pembelajaran (pengalaman mengajar) yang ditulis oleh seorang guru/dosen dalam praktik pembelajaran mereka di kelas. Pengalaman tersebut memberikan contoh nyata tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh guru pada saat mereka melaksanakan pembelajaran. Gunanya adalah melalui pengkajian case study dalam pembelajaran dengan segala komponennya, para guru dapat melakukan evaluasi diri (self evalution), dapat memperbaiki dan sekaligus dapat meningkatkan praktik pembelajaran mereka di kelas. Bagi para calon guru, kajian terhadap case study akan dapat membuka wawasan mereka terhadap pembelajaran dan menanamkan konsep bagaimana seharusnya pembelajaran itu berlangsung.
Materi ini memberikan kesempatan untuk mendalami dan memantapkan penguasaan materi case study yang sebentar nanti kita akan sampaikan pada KKG ataupun MGMP. Pengalaman belajar selama mengikuti materi ini:
Pengalaman yang dituangkan dalam case study adalah ungkapan kejujuran. Artinya, cerita dalam case study adalah cerita kejujuran.
Case study tentang pembelajaran dapat digunakan untuk membantu, baik guru maupun mahasiswa calon guru dalam memahami hakikat pembelajaran. Studi kasus seperti ini menjadi catatan penting dalam pelaksanaan pembelajaran secara nyata. Case study ditulis dalam bentuk narasi dan berisi pengalaman pembelajaran yang paling berkesan yang Anda ingat karena kesuksesannya, kesulitan, atau pengalaman yang penuh problematika.
Ada beberapa hal yang belum di ketahui yakni format baku untuk menyusun case study dan bagaimana cara yang lebih efektif agar guru-guru pada KKG maupun MGMP itu tidak bosan dengan materi.
KAJIAN KRITIS
(ARTIKEL ILMIAH)
Etos Kerja Guru
Hasil Kajian Kritis terhadap Artikel Ilmiah:
Penulis kurang fokus terhadap etos kerja guru,
Pendirian penulis dalam artikel tersebut hanya mengacu pada keterampilan berbicara, belum ada contoh-contoh kemajuan ilmu pengetahuan apa saja yang membuat dunia akan semakin sempit.
Penulis dalam menuliskan artikel ini hanya berisi pendapat tanpa di dukung oleh sumber referensi
Ejaan dan Tanda Baca
Penggunaan tanda baca pada kalimat kedua kurang tepat, seharusnya terdapat tanda baca koma (,) setelah kata deras.
Case Study:
Saya Ingin Berbuat Yang Tebaik untuk Siswa Saya
Oleh:
Rusdin, S.Pd
Mengajar bagi saya adalah pekerjaan yang sangat menyenangkan sehingga saya sangat antusias untuk mengajar siswa saya, sehingga banyak sekali inovasi-inovasi pembelajaran yang ingin saya gunakan agar siswa saya dapat memahami tentang apa yang saya ajarkan diantaranya dengan menggunakan media power point, macromedia flash, buku sekolah elektronik dan tak lupa pula sound system serta infocus. Sayabingin pembelajaran hari ini lain dari yang biasanya.
Selasa, 07 September 2010, pukul 13.00 saya melaksanakan pembelajaran di kelas VIII. 10 SMP Negeri 2 Ambon. Sesuai dengan isi silabus semester 3, saya mengajar Matematika dengan Standar Kompetensi: Memahami bentuk aljabar, relasi, fungsi dan persamaan garis lurus, dan Kompetensi Dasar: Melakukan operasi aljabar. Dua hari sebelum pembelajaran berlangsung, saya menyiapkan seluruh hal-hal yang akan perlu dipersiapkan selain RPP
Awal saya berdiri di depan kelas, saya melihat wajah anak-anak yang senang sekali, dalam hati kecil saya mengatakan mereka senang karena hal ini tampak berbeda dari hari biasanya karena ruangan yang dipakai untuk belajar matematika berbeda dari hari biasanya, maklum saya gunakan laboratorium computer untuk pembelajaran matematika. Seperti biasa saya menyambut mereka "Anak-anak kita bertemu kembali dalam pelajaran matematik." "Hari ini kita melanjutkan topik yang sudah pernah kita singgung pada pertemuan sebelumnya."
Selanjutnya saya memulai membawakan materi dengan menyampaikan standar kompetensi, kompetensi dasar serta tujuan pembelajaran yang akan di capai. Tujuan yang akan dicapai disini adalah
Menyelesaikan operasi tambah, kurang apada bentuk aljabar, selanjutnya saya memulai dengan membawakan materi dengan menggunakan flash dimulai dengan membahas konsep operasi hitung bilangan bentuk aljabar, setelah itu saya menampilkan contoh-contoh soal penyelesaian dengan menggunakan buku sekolah elektronik, saya menyaksikan anak-anak sangat antusias menyaksikan pelajaran hari ini ketimbang hari-hari yang biasanya, selanjutnya Pembelajaran berlanjut dengan mengelompokkan anak-anak pada kelompok-kelompok yang sudah ada. Selanjutnya anak-anak mengerjakan LKS,anak-anak berdiskusi dalam kelompoknya untuk memecahkan masalah-masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang ada di LKS. Sambil saya berkeliing saya memberikan penjelasan seperlunya ketika beberapa anak yang masih belum paham dengan materi pada LKS. Hal ini menjadi tanda tanya besar, kenapa siswa yang tadinya intens memperhatikan tayangan LCD tapi setelah diadakan diskusi kelompok untuk membahas masalah banyak siswa yang belum paham dan terlihat agak malas-malasan. Setelah waktu yang ditentukan, selanjutnya masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya. Proses diskusipun berjalan dengan monoton, hasil diskusi hanya dibacakan saja tanpa dirspon oleh kelompok lain, Selanjutnya pelajaran hari itu ditutup dengan sebuah kesimpulan yang dibuat bersama semua kelompok.
Meskipun saya merasa tujuan pembelajaran atau target pembelajaran siang itu 95 % tercapai, masih ada ganjalan di benak saya ketika pembelajaran berakhir. Ganjalan itu antara lain adalah (1) bagaimanakah seharusnya kita mengajar? (2) Apakah semua anak menikmati pembelajaran ini? (3) Apakah pelajaran ini dapat dimengerti oleh anak-anak saya bahasa sapaan saya dalam bentuk anak-anak akan membekas dalam jiwa mereka sebagai bentuk sapaan yang penuh kebapakan? (4) Apakah pembelajaran saya tentang operasi hitung bentuk aljabar dapat di pahami oleh anak-anak? saya mengakhiri pembelajaran hari itu dengan sebuah senyum.
Selamat dan sukses sail banda 2010
Kata itulah yang patut kita ucapkan dalam rangka mendukung dan mensukseskan sail banda
CURRICULUM VITAE
Nama : Rusdin, S.Pd
NIP : 19801201 200604 1 013
Tempat, tanggal lahir : Ambon, 01 Desember 1980
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Jl. Asrama Haji No.20
RT. 024 RW. 09 Waiheru
Ambon,
No. HP : +62813 43245121
Email : rusdin09@gmail.co.id
Pendidikan Formal
2000 - 2005 : Universitas Haluoleo, Kendari.
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Matematika
1995 - 1998 : SMU Negeri 7, Ambon. Jurusan IPA
1992 - 1995 : SLTP Negeri 6, Ambon
1986 - 1992 : SD Negeri 2 Hative Kecil, Ambon
Pendidikan dan Pelatihan
2010 : Pelatihan Provincial Core Team (P4TK Matematika), Solo.
2009 : Pelatihan Pembelajaran Matematika Berbasis ICT. Dinas Pendidikan Provinsi Maluku, Ambon.
2009 : Pelatihan Pemanfaatan Server Jardiknas, Pusat teknologi dan Komunikasi Pendidikan, Jakarta.
Pengalaman Mengajar
2006 -Sekarang : Guru SMP Negeri 2 Ambon
2005 -2006 : Guru SMK Muhammadiyah Ambon.
Pengalaman Pekerjaan
2010 : TIM PCT MGMP Matematika bermutu
2010 : Guru Pemandu MGMP Matematika bermutu
2010 : Tim Instruktur Matematika Provinsi Maluku
2010 : Kepala Lab. Komputer SMP Negeri 2 Ambon
Standar Nasional Pendidikan yang dituangkan dalam bentuk Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 mencakup 8 (delapan) standar, yakni (1) standar isi, (2) standar proses, (3) standar kompetensi lulusan, (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, serta (8) standar penilaian pendidikan. Peraturan Pemerintah tersebut juga memuat pembelajaran harus dilaksanakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Pembelajaran juga harus memberi keteladanan.
Uraian di atas menyiratkan bahwa paradigma pembelajaran yang selama ini dilakukan dapat divariasi. Pembelajaran diupayakan menerapkan inovasi. Inovasi terjadi pada tataran implementasi, yaitu menerapkan pembelajaran inovatif. Dengan perkataan lain inovasi sangat berkait dengan perubahan tingkah laku guru. Terdapat beberapa alasan, mengapa harus mengubah paradigma pembelajaran, yakni: (1) Jumlah informasi yang sedemikian banyak di satu sisi, sementara di sisi lain terbatasnya jumlah waktu yang tersedia, tidaklah mungkin bagi guru untuk memberikan semua informasi dalam bentuk jadi kepada peserta didik. Diperlukan suatu keterampilan tertentu yang dapat digunakan oleh peserta didik untuk mengarahkan dirinya dalam rangka belajar sepanjang hayat. (2) Tidak semua aspek pengetahuan dapat diajarkan dengan cara yang sama apalagi hanya dengan satu cara. Diperlukan variasi cara dan strategi sesuai dengan karakteristik materi pelajaran yang diajarkan. (3) Orientasi pada penguasaan target materi telah berhasil dalam kompetensi mengingat jangka pendek, tapi gagal dalam membekali peserta didik memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. (4) Hasil penelitian yang dilakukan dalam 25 tahun terakhir tentang otak manusia menunjukkan bahwa drill hanya mengembangkan satu bagian otak manusia yang disebut dengan batang otak (otak manusia terdiri dari batang otak, sistem limbik dan neokorteks/otak berpikir). Batang otak atau sering disebut dengan otak reptil berfungsi sebagai motor sensorik, bertanggungjawab mengkoordinasikan aktivitas yang menyangkut kelangsungan hidup: melawan atau lari. Sementara neokorteks berfungsi untuk berpikir, bernalar, berperilaku baik, kemampuan berbahasa, dan kecerdasan yang lebih tinggi belum difungsikan secara maksimal. (5) Pembelajaran suatu bidang ilmu lebih baik dilakukan dengan cara sebagaimana ilmu itu ditemukan oleh para ahli. Hal ini mengisyaratkan adanya integrasi antara keterampilan kerja ilmiah dengan penguasaan konsep. (6) KBM seharusnya terfokus pada learning, berangkat dari masalah nyata, dan menumbuhkembangkan kemampuan menggunakan keterampilan proses. (7) Strategi lebih penting dari pada hanya sekedar hasil (baca produk saja).
Matematika dianggap sangat penting bagi kehidupan manusia. Matematika memiliki keterkaitan dan menjadi pendukung berbagai bidang ilmu serta berbagai aspek kehidupan manusia. Tetapi di sisi lain, matematika juga dianggap sebagai mata pelajaran yang cukup sulit bagi siswa, bahkan cukup menakutkan bagi beberapa siswa di SMK Muhammadiyah Ambon. Hal ini terlihat pada saat pembelajaran berlangsung hampir 60% diantara para siswa memiliki hasil belajar matematika operasi bilangan real masih rendah, data yang lain dapat dilihat dari hasil wawancara beberapa siswa.
Kondisi di kelas juga diperparah dengan pengelolaan guru dalam proses pembelajaran diantaranya masih kuatnya dominasi guru dalam proses pembelajaran, guru secara aktif menjelaskan materi, memberikan contoh dan latihan, sementara siswa bekerja secara prosedural dan memahami matematika tanpa penalaran, disamping itu guru dalam pembelajarannya masih indoktrinasi yaitu mendudukkan dirinya sebagai maha tahu, maha benar, dan dalam proses pembelajarannya guru belum mengembangkan kemampuan belajar siswa dalam berfikir kritis, logis dan kreatif.
Pada kurikulum 2004 tentang Ringkasan Kegiatan Belajar Mengajar disebutkan bahwa: belajar merupakan kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemahaman. Pada buku itu juga disebutkan pula prinsip-prinsip Kegiatan Belajar Mengajar diantaranya adalah Berpusat pada siswa, Belajar dengan Melakukan serta Mengembangkan Kemampuan Sosial. Dengan memperhatikan 3 prinsip Kegiatan Belajar Mengajar yang dikemukakan pada Kurikulum 2004 terlihat bahwa prinsip-prinsip tersebut mengacu pandangan Konstruktivis yaitu penciptaan kondisi yang memungkinkan siswa untuk mengkonstruksikan pengertian sendiri terhadap suatu konsep sehingga lebih menarik dan bermanfaat bagi siswa, bila dibandingkan dengan jika pengertian tersebut diperoleh secara langsung dari guru, sehingga pembelajaran sering disebut pembelajaran berpusat pada siswa. Salah satu bentuk pembelajaran yang berorientasi kepada pendekatan konstruktivis adalah model pembelajaran kooperatif.
Salah satu bentuk pembelajaran kooperatif yaitu pembelajaran kooperatif tipe Team Assistead Individualization (TAI), Pembelajaran kooperatif tipe TAI ini dikembangkan oleh Slavin. Tipe ini mengkombinasikan keunggulan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran individual. Tipe ini dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual. Oleh karena itu kegiatan pembelajarannya lebih banyak digunakan untuk pemecahan masalah, ciri khas pada tipe TAI ini adalah setiap siswa secara individual belajar materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan oleh guru. Hasil belajar individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok, dan semua anggota kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama.
Apakah penerapan Model pembelajaran kooperatif pada pelajaran matematika dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X di SMK Muhammadiyah Ambon?
F
Meningkatkan hasil belajar siswa
F
Meningkatkan prestasi belajar siswa
F Meningkatkan kemampuan guru mengajar di kelas
F Meningkatkan mutu dan kualitas sekolah
Pembelajaran kooperatif tipe TAI ini dikembangkan oleh Slavin. Tipe ini mengkombinasikan keunggulan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran individual. Tipe ini dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual. Oleh karena itu kegiatan pembelajarannya lebih banyak digunakan untuk pemecahan masalah, ciri khas pada tipe TAI ini adalah setiap siswa secara individual belajar materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan oleh guru. Hasil belajar individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok, dan semua anggota kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama. Langkah-langkah pmbelajaran kooperatif tipe TAI sebagai berikut.
Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai
Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran matematika pemecahan masalah, merupakan fokus kegiatan (Diknas,2004:78). Sedangkan definisi pembelajaran adalah sebagai upaya untuk membelajarkan siswa (Degeng, 1997:7). Dengan pengertian di atas bahwa pembelajaran dapat diartikan sebagai, suatu kegiatan yang mermberikan fasilitas belajar yang baik sehingga terjadi proses belajar (Harmini,2005:3). Sehingga strategi pembelajaran merupakan kegiatan yang dipilih oleh guru dalam proses pembelajaran yang dapat memberikan fasilitas belajar sehingga memperlancar tujuan belajar matematika (Hudoyo dalam Harmini, 2004:9).
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran merupakan kegiatan yang dipilih guru dalam suatu proses pembelajaran yang meliputi: (1) Kemana proses pembelajaran matematika? (2) Apa yang menjadi isi dari proses pembelajaran matematika? (3) Bagaimana pelaksanaan proses pembelajaran matematika? (4) Sejauh mana proses pembelajaran matematika tersebut berhasil?
Keempat aspek tersebut membentuk terjadinya proses pembelajaran. Adanya interaksi siswa dengan guru dibangun atas dasar keempat unsur di atas. Pengetahuan tentang matematika mencakup pengetahuan konseptual dan pengetahuan prosedural. Pengetahuan konseptual mengacu pada pemahaman konsep, sedangkan pengetahuan prosedural mengacu pada keterampilan melakukan sesuatu prosedur pengajaran.
Dua hal penting yang merupakan, bagian dari tujuan pembelajaran matematika adalah pembentukan sifat dengan berpikir kritis dan kreatif (Karso, 2005:2-17) untuk mengembangkan dua hal tersebut haruslah dapat mengembangkan imajinasi anak dan rasa ingin tahu. Dua hal tersebut harus dikembangkan dan ditumbuhkan, siswa diberi kesempatan berpendapat, bertanya, sehingga proses pembelajaran matematika lebih bermakna.
Dalam pembelajaran ini guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi, pendekatan, Model, dan teknik yang melibatkan keaktifan siswa, baik secara mental maupun fisiknya. Disamping itu optimalisasi interaksi dan optimalisasi seluruh indera siswa harus terlibat. Penekanan pembelajaran matematika tidak hanya pada melatih keterampilan dan hafal fakta, tetapi pada pemahaman konsep,
Dengan demikian, guru pada merencanakan dan melaksanakan pembelajaran matematika dengan mengupayakan suasana kelas yang menantang, menyenangkan. Hal ini memungkinkan situasi lebih kreatif dan aktif.
Dalam kurikulum SMK edisi 2004 dan KTSP dijelaskan Penilaian adalah proses sistematis meliputi pengumpulan informasi (angka, deskripsi verbal), analisis, interpretasi informasi untuk membuat keputusan. Proses pengumpulan dan penggunaan informasi oleh guru melalui sejumlah bukti untuk membuat keputusan tentang pencapaian hasil belajar/kompetensi siswa.
Kerangka dasar penilaian hasil belajar (Kurikulum 2004/KTSP) adalah :
Pengertian Penilaian Berbasis Kompetensi (Competency-based Assessment)
Bukti hasil belajar dikumpulkan sebagai bagian dari langkah pengukuran baik melalui tes maupun cara lain (penugasan, wawancara, perekaman proses dan hasil kegiatan) yang dapat membuktikan seseorang telah kompeten, berasal dari berbagai sumber dan dalam bentuk yang bervariasi.
Hasil belajar merupakan efek dari proses belajar yang terjadi. Karena itu hasil belajar akan tercapai dengan baik jika proses belajarnya juga baik. Hasil belajar siswa diperoleh setelah berakhirnya proses pembelajaran. Dimyati (1999;3) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa hasil belajar merupakan puncak proses belajar.
Sementara itu Ahmadi (1984:35) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah hasil yang dicapai dalam suatu usaha, dalam hal ini usaha hasil belajar berupa perwujudan prestasi belajar siswa yang dapat dilihat pada nilai setiap mengikuti tes.
Menggunakan Model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan hasil belajar Matematika siswa kelas X SMK Muhammadiyah Ambon.
SMK Muhammadiyah Ambon
Siswa kelas X SMK Muhammadiyah ambon tahun pelajaran 2010/2011
Data yang akan diolah dalam penelitian ini yaitu data yang diperoleh dari kegiatan pembelajaran berupa catatan observer yang dituliskan dalam instrument dan hasil penilaian pre tes dan post tes pada setiap siklus penelitian.
Data yang diperlukan untuk menjawab tujuan pertama dari penelitian ini, yaitu pembelajaran kooperatif tipe TAI dapat meningkatkan hasil belajar matematika, dijaring menggunakan instrumen pengamatan. Sedangkan data untuk mengukur hasil belajar dijaring melalui dokumen hasil pre tes dan post tes.
No. | Rencana Kegiatan | Juli | Agustus | September | Biaya | |||||||||
1 | 2 | 3 | 4 | 1 | 2 | 3 | 4 | 1 | 2 | 3 | 4 | |||
1 | Studi Pustaka | 1,0 Juta | ||||||||||||
2 | Pengumpulan Data | 0,5 Juta | ||||||||||||
3 | Penggandaan proposal | 1,0 juta | ||||||||||||
4 | Analisis Data | 1,0 juta | ||||||||||||
5 | Penyusunan Laporan | 1,0 juta | ||||||||||||
6 | Seminar | |||||||||||||
7 | Penyempurnaan Laporan | 0,5 juta | ||||||||||||
8 | Penyerahan Laporan | |||||||||||||
Jumlah | 5 juta | |||||||||||||
Adapun personil dalam penelitian ini melibatkan teman sejawat guru SMK Muhammadiyah Ambon diantaranya :
Arikunto, Suharsimi. 1996. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bina Aksara.
Gaspersz, Vincent. 1997. Manajemen Kualitas Penerapan Konsep-Konsep Kualitas Dalam Manajemen Bisnis Total. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Robbins, Stephen P. Alih bahasa, Udaya Jusuf 1994. Teori Organisasi. Jakarta : Arcan.
Sianipar. 1999. Perencanaan Peningkatan Kinerja. Republik Indonesia : Lemnbaga Administrasi Negara.
Sudjana. 1991. Teori-teori Belajar untuk Pengajaran. Lembaga Penerbit : Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Sugiyono. 1999. Model Penelitian Bisnis. Bandung : CV. Alpabeta.
Arikunto, S dkk., 2006. Penelitian Tindakan Kelas , Bumi Aksara ,Jakarta.
Engkoswara, 1984, Dasar-dasar Metodologi Pengajaran, PT. Bina Aksara, Jakarta.
Hamalik, O. 2005, Kurikulum dan Pembelajaran, Bina Aksara, Jakarta.
Mutakin,Anwar dan Y. Yuhana, 2005, Pembelajaran Kooperatif
Sabri, A. 2005, Strategi Belajar Mengajar Micro Teaching, Quantum Teaching, Jakarta.
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas / Semester : VIII / 2
Hari, Tanggal : ………………..
Waktu : ……………..WIT (120 menit)
Petunjuk umum:
Jika jari-jari lingkaran O adalah 8 cm. Jika panjang PQ 15 cm. maka jarak titik Q ke titik pusat adalah … cm.
Jika MN = 10 cm, MK = 4 cm dan NL = 2 cm, maka panjang garis singgung persekutuan KL adalah ... cm.
Jika diketahui panjang MA = 16 cm, NB = 8 cm dan AB = 15 cm, maka panjang MN adalah ... cm.
Jika diketahui panjang MN = 26 cm, KL = 24 cm dan MK = 14 cm, maka panjang NL adalah ... cm.
a.
| c.
|
b.
| d.
|
Luas karton yang dibutuhkan untuk mengemas cokelat tersebut adalah ... cm2.
Jika luas alas piramida tersebut
3.600 m2 dan volumenya 96.000 m3, maka tinggi piramida tersebut adalah ... m.